Perempuan Batak Toba sebagai Rekan Sekerja Allah
Tinjauan Ekofeminis Menyikapi Krisis Ekologi
DOI:
https://doi.org/10.62926/jct.v1i2.73Kata Kunci:
Krisis Ekologi, Perempuan, Budaya Batak, Ekofeminisme, EkoteologiAbstrak
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran perempuan berkaitan dengan krisis ekologi dari sudut pandang ekofeminisme dengan memberi penekanan khusus terhadap perspektif teologi Kristen dan upaya ekoteologi kontekstual budaya Batak Toba. Krisis ekologi merupakan isu yang mengancam kehidupan manusia akibat ketidakmampuan alam mengimbangi kecepatan konsumsi terhadapnya, sehingga manusia perlu mengembangkan kemampuan untuk mempertimbangkan kapasitas alam ketika mengambil manfaat darinya. Budaya patriarki yang menekankan ekonomi kapitalis bertanggung jawab atas krisis ekologi karena mengabaikan aspek pemeliharaan alam demi laju ekonomi. Lalu, bagaimana peran perempuan terhadap krisis ekologi dari sudut pandang ekofeminis? Bagaimana relasi kearifan lokal budaya Batak Toba dengan alam dan perempuan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur. Tulisan ini menyimpulkan bahwa konsep hierarki dualisme yang mengakar dalam budaya patriarki telah meniadakan martabat perempuan dan mengeksploitasi sumber daya alam secara tidak lestari yang tentu saja tidak sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. Perempuan dan alam memiliki keterikatan yang mendalam sehingga tidak mengherankan jika dampak krisis ekologi lebih dirasakan oleh perempuan, mendorong perjuangan oleh perempuan itu sendiri.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Gorga: Jurnal Teologi Konstruktif

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Dalihan Na Tolu: Journal of Constructive Theology memegang hak cipta atas seluruh artikel yang dimuat di jurnal online ini.